Maret 2018, Aceh Alami Deflasi 0,09 persen
Banda Aceh - Pada bulan Maret 2018 di Kota Banda Aceh terjadi deflasi sebesar 0,08 persen, Kota Meulaboh inflasi sebesar 0,21 persen, dan Kota Lhokseumawe mengalami deflasi sebesar 0,25 persen. Secara agregat untuk Aceh pada bulan Maret 2018 mengalami deflasi sebesar 0,09 persen.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh Wahyudin pada acara resume paparan Kepala BPS Provinsi Aceh di Aula BPS Aceh, Senin (2/4/2018).
Deflasi yang terjadi di Provinsi Aceh, jelas Wahyudin disebabkan oleh penurunan indeks harga konsumen kelompok bahan makanan sebesar 1,07 persen, diikuti oleh kelompok kesehatan deflasi sebesar 0,03 persen.
Sedangkan 5 kelompok lainnya mengalami inflasi yaitu kelompok sandang inflasi sebesar 0,36 persen, diikuti oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau inflasi sebesar 0,35 persen, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan inflasi sebesar 0,29 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar inflasi sebesar 0,14 persen, dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga inflasi sebesar 0,07 persen.
Komponen inti untuk provinsi Aceh pada maret 2018 mengalami inflasi sebesar 0,15 persen, komponen yang harganya diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,30 persen dan komponen bergejolak juga mengalami deflasi 1,10 persen.
Lebih lanjut Wahyudin menjelaskan beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga pada bulan maret 2018 antara lain adalah daging ayam ras dengan andil sebesar 0,1045 persen, ikan kembung sebesar 0,0706 persen, dencis sebesar 0,0570 persen, teri (basah) sebesar 0,0287 persen, dan jeruk sebesar 0,0282 persen.
Sedangkan beberapa komoditas di Provinsi Aceh yang mengalami kenaikan harga pada bulan maret 2018 antara lain adalah cabai merah dengan andil sebesar 0,0845 persen, udang basah sebesar 0,0645 persen, bensin sebesar 0,0340 persen, besi beton sebesar 0,0272 persen, dan gulai sebesar 0,0230 persen.
Menurut Wahyudin, inflasi year on year (Maret 2018 terhadap Maret 2017) yang terjadi untuk Kota Banda Aceh sebesar 3,88 persen, Kota Lhokseumawe sebesar 4,42 persen, Kota Meulaboh sebesar 2,83 persen dan Provinsi Aceh sebesar 3,90 persen.
Dari 82 kota di Indonesia yang dipantau harganya pada maret 2018, tercatat 57 kota mengalami inflasi sedangkan 25 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Jayapura sebesar 2,10 persen dan yang terendah di Kota Sumenep sebesar 0,01 persen. Deflasi terbesar terjadi di Kota Tual sebesar 2,30 persen. Secara urutan inflasi tertinggi, Kota Meulaboh berada pada urutan 30, Kota Banda Aceh pada urutan 61 persen, dan Kota Lhokseumawe pada urutan 73.
Bila dilihat dari 23 kota di Sumatera, 19 kota mengalami inflasi sedangkan 4 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Tembilahan sebesar 1,38 persen dan yang terendah di Kota Batam sebesar 1,20 persen, sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Kota Lhokseumawe sebesar 0,25 persen.(wan/ri)
Sumber : diskominfo.acehprov.go.id
-
Meski Covid-19, Aceh Masih Bisa Berbuat Lebih Baik untuk Pertumbuhan Ekonomi
Kamis, 23 Juli 2020 -
Pemerintah Keluarkan Edaran Libur Idul Adha
Kamis, 23 Juli 2020 -
Sektor Pariwisata Aceh Harus Siapkan Diri dengan Konsep New Normal
Kamis, 23 Juli 2020 -
Tujuh Pasien Covid-19 Sembuh, Hasil Tracing Ditemukan Tujuh Kasus Baru
Kamis, 23 Juli 2020 -
Plt Gubernur Bersama Kepala SKPA Gelar Do’a untuk Kesembuhan Pasien Covid-19 Secara Daring
Rabu, 22 Juli 2020