Aceh Documentary Gelar Malam Penghargaan Dokumenter Aceh ke-6
Banda Aceh - Yayasan Aceh Documentary menggelar Malam Penghargaan Dokumenter Aceh ke-6 2018 (The 6th Aceh Documentary Awards Night 2018) di Balai Kota Banda Aceh, Minggu malam (28/10/02018).
Nominasi Film Dokumenter Aceh Documentary Competition (ADC) 2018 terbaik dengan judul Lautan Bara oleh Mariani dan Aris Munandar dari Meulaboh, Naseb Pejuang oleh Siti Aisyah dan Hastina dari Nagan Raya dan di Bawah Garis Penindasan oleh Safrizal dan Ririn Sridarlianti
Untuk Nominasi Film Dokumenter Aceh Dokumentary Junior (ADJ) 2018 terbaik dengan judul film Lentera Kuning oleh Muthiatun Nisa dan M. Iqbal Faruqi dari SMA Negeri 1 Ingin Jaya, Gasing Gayo oleh Panji Ridho Setiawan dan Julpan Hasbi Putra dari SMK Negeri 3 Takengon dan Tarian Kehidupan oleh Naira Br Capah dan Fauzan Syam Adiya dari SMA Negeri 1 Simpang Kiri.
Sementari itu, Nominasi Film Dokumenter Aceh Dokumentary Junior Special Project (ADJSP) 2018 terbaik dengan judul Kehidupan di Balik Kaki Gunung Leuser diraih oleh Mutuwah dan Ahmad Badli Abas dari SMAN 1 Blangkejeren, Save Orangutan oleh Faidhul Hafidz Furqani dan Auza’i Afkar Harsha dari SMAN Unggul Aceh Selatan, The Water of Life by Shaumi Syahri Fithria dan Rifat Rahman dari SMAN 1 Tapaktuan, Hilangnya Senyum Petani Pala by Zia Ulhaq Hasbi dan Wildatun Rizqi dari SMA Negeri 1 Meukek dan Kanduri Seneubok by Safrullah & Putri Mahela dari SMA Negeri 1 Meukek.
Ketua Yayasan Aceh Documentary Faisal Ilyas dalam sambutannya mengatakan 70 persen karya tahun ini dihasilkan teman-teman siswa Se-Kabupaten Aceh, Aceh secara komunitas jelas kalah dimana penduduk Aceh Lebi sedikit dibandingkan dengan provinsi lain, namun secara kualitas kita masih punya masa depan berkayar lebih besar dan lebih baik.
Faisal mengharapakan kepada peraih Nominasi Film Dokumener Aceh agar menjadikan karya ini sebagai jembatan utnuk karya-karaya selanjutnya, "yang menjadikan senior dan tidak itu bukan usia tapi karya, semakin banyak karya semakin senior" jelasnya.
Ia punya mimpi sekitar 20 atau 30 tahun lagi Aceh bisah menjadi pusat pembelajaran dokumeter dunia karena kita banyak kisah seperti konflik dan tsunami dan kisah syariat isalam yang tidak dimiliki oleh provinsi lain.
"Apresiasi yang menjadi batu locatan dan teman-teman yang menang akan kita bawa untuk mengikuti festial di indonesia seperti sebelumnya" katanya.(am/gl)
Sumber : diskominfo.acehprov.go.id
-
Meski Covid-19, Aceh Masih Bisa Berbuat Lebih Baik untuk Pertumbuhan Ekonomi
Kamis, 23 Juli 2020 -
Pemerintah Keluarkan Edaran Libur Idul Adha
Kamis, 23 Juli 2020 -
Sektor Pariwisata Aceh Harus Siapkan Diri dengan Konsep New Normal
Kamis, 23 Juli 2020 -
Tujuh Pasien Covid-19 Sembuh, Hasil Tracing Ditemukan Tujuh Kasus Baru
Kamis, 23 Juli 2020 -
Plt Gubernur Bersama Kepala SKPA Gelar Do’a untuk Kesembuhan Pasien Covid-19 Secara Daring
Rabu, 22 Juli 2020